Halaman

Rabu, 28 April 2010

Adult Learning

Step 1

  1. CPD     : Proses pembelajaran terus menerus secara bertahap
  2. SPICES     :

    *Proses pembelajaran secara ilmiah                         *Proses pembelajaran system mandiri

  3. Peer assessment : Pemahaman/taksiran lawan bicara
  4. Student centered : Pembelajaran yang terpusat pada siswayang dituntut mandiri
  5. Deep learning     : Proses pembelajaran dimana belajar tidak hanya dapat mengartikan tapi juga bisa mengerti dan memahami
  6. Konten      : Isi
  7. Jurnal ilmiah     : Kumpulan hasil riset
  8. Self reflection : Introspeksi diri untuk mengetahui kemampuan
  9. Collaborative learning     : Pengetahuan untuk bekerja sama
  10. Seif directed learning :

    *Kebutuhan untuk mengatur kebutuhan belajar

    *Kemampuan untuk menentukan arah dan tujuan dari pembelajaran

  11. Independent lerning :

    *Mahasiswa dituntut untuk mandiri

    *System pembelajaran agar siswa aktif mencari informasi


     


     

Step 2

  1. CPD dan strategi SPICES
  2. Perkembangan ilmu kedokteran dan belajar sepanjang hayat
  3. Konsep belajar untuk mensiasati perkembangan ilmu kedokteran
  4. Pembelajaran bagi orang dewasa (Adult Learning)
  5. Kegiatan CPD dan belajar mandiri
  6. Ketrampilan belajar orang dewasa


 

Step 3

1.Jelaskan CPD, meliputi :                                 a. Pengertian                                     b. Proses :                                        *Diskusi dan menemukan masalah                        *Prosesnya bertahap,mulai dari membaca dan memahami                *Pembekalan kemudian implementasi ilmu                 c. Keuntungan :                                        *Selalu up to date                             d. Kerugian :                                    *Keabsahan dasar ilmu                                 e. Tujuan :                                        *Berhasil belajar di FK                                     *Untuk memberikan ketrampilan yang bermanfaat,tidak hanya dalam proses pembelajaran tapi juga dalam kehidupan


 

2. Jelaskan SPICES, meliputi :                                 a. Pengertian : Student Centered, PBL, Integrated,Community Oriented, Elective, Strategic b.proses : analytic,questioning,hipotesis dan menyimpulkan
c.keuntungan : *Collaborative learning untuk menambah pengetahuan *Selalu up to date d. Kerugian : *Kendala waktu dan kondisi *Hasil diskusi yang kurang sempurna d. Tujuan : *Mahasiswa dapat belajar mandiri dan sistematis


 

Step 4

Mahasiswa


 


 

Adult learning


 


 

Self directed learning    independent learning

SPICES


 


 

Student center         PBL


 


 

Terampil menyelesaikan masalah


 


 

CPD


 


 

Step 5    

1.Bagaimana cara mengikuti CPD? 2. Jelaskan macam-macam riset yang dilakukan diseluruh dunia! 3. Jelaskan kegiatan yang ada dalam CPD! 4. Apa keuntungan dan kerugian strategi SPICES? 5. Apa keuntungan dan kerugian CPD? 6. Jelaskan tentang SPICES! 7. Sebutkan tujuan penerapan strategi SPICES! 8. Apa hubungan antara SPICES dengan Student Based Learnning dan PBL? 9. Apa persoalan yang dihadapi selama belajar di FK? 10. Apa landasan stategi SPICES? 11.Jelaskan mengenai pengetahuan dasar medis! 12. Sebutkan ciri-ciri pembelajar dewasa!

13. Jelaskan tentang Adult Learning!


 


 

Step 6

Belajar mandiri


 

Step 7

Istilah-Istilah

  • Deep learning : memecahkan masalah dengan cara mendalami masalah tersebut secara detail dr hal yang terbesar sampai yang terkecil.
  • Collaborative learning    : metode belajar yang menitikberatkan pada kerjasama antara mahasiswa yang didasarkan pada konsensus yang dibangun sendiri oleh anggota kelompok walaupun tugas atau masalah berasal dari dosen
  • Self reflection : aksi intelektual dan efektif yang bekerjasama individual untuk meengeksplor pengalaman-pengalaman mereka supaya menuju kepada pemahaman dan apresiasi yang baru.(Boud et al,1985:19) Suatu hal yang dapat dipelajari dan dapat dimodifikasi melalui pendidikan dan keakuratan hasil.

Continuing Professional Development

  • Definisi                                            Program Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran Berkelanjutan (PPPKB) atau istilah lainnya Continuing Professional Development (CPD) adalah upaya pembinaan bersistem untuk mempertahankan, meningkatkan dan mengembangkan performance dokter agar ia senantiasa dapat menjalankan profesinya dengan baik. PPPKB bukan hanya berperan dalam meningkatkan pengetahuan tetapi lebih untuk mempertahankan dan meningkatkan kompetensi yang bersangkutan sehingga tercermin dalam kinerjanya. Oleh karena itu kredit yang dikumpulkan melalui kegiatan CPD seyogyanya dapat menjamin terselenggaranya pelayanan kedokteran yang bermutu, dan itu berarti mengacu kepada standar profesi yang bersangkutan.

Mengembangkan program CPD yang efektif untuk revalidasi perlu diperhatikan beberapa hal :

  • Program CPD mampu memenuhi semua kebutuhan peserta
  • Tersedia dan dapat diikuti oleh semua dokter
  • Dapat diakses dan tepat waktu untuk memenuhi kebutuhan tentang Personal Development Plans, tanpa hambatan keuangan atau hambatan lain
  • Bermutu tinggi, berdasar pada suatu proses persetujuan yang sempurna dan umpan balik sistematis kepada penyedia-penyedia
  • Dapat dilihat keefektifannya melalui kepuasan peserta, perubahan pengetahuan dan perubahan praktek.
  • Terlihat efektif dan kuat oleh masyarakat dan pemerintah melalui transparansi struktur, proses dan outcome

Berdasarkan Journal of Emergency Primary Health Care bentuk metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam CPD adalah sebagai berikut :

  • Work-based learning (e.g. reflective practice, clinical audit, significant event analysis)
  • Professional activity (e.g. mentoring, expert witness, teaching)
  • Formal / educational (e.g. courses, involvement in research)
  • Self-directed learning (e.g. reading journals, updating personal knowledge)
  • Other (e.g. public service, voluntary work)

Sedangkan berdasarkan BMJ bentuk metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam CPD dibagi dalam tiga kategori yaitu :

(a) "live" or external activities (kursus,
seminar, konferensi)

(b) internal activities (practice based activities, case conferences,
grand rounds,
journal clubs, teaching, consultation with peers
and colleagues
)

(c) "enduring" materials (print, CD Rom,
or web based materials, possibly based on a curriculum, with testing
or assessment
)

    


 

SPICES

    

  • Definisi

Dalam menempuh pendidikan dokter hendaknya kita menerapkan suatu strategi pembelajaran, misalnya dengan menerapkan strategi SPICES yaitu strategi pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa berdasarkan keterkaitan ilmu dalam masalah yang nyata dan berorientasi pada hal-hal tertentu dan lebih spesifik.


 

Yang termasuk strategi SPICES :

  • Student centered yaitu kegiatan belajar yang berpusat pada mahasiswa itu sendiri.
  • Problem Based
    learning
    adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata dan lalu dari masalah ini mahasiswa dirangsang untuk mempelajari masalah ini berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam penerapan problem based learning
  • Intergrated teaching yaitu memahami keterkaitan ilmu dalam suatu masalah
  • Communicated oriented yaitu mempelajari ilmu yang berorientasi pada hal-hal tertentu atau lebih spesifik
  • Elective/early clinical exposure yaitu pendekatan pembelajaran sejak dini
  • Strategic yaitu suatu strategi dimana mahasiswa dalam memecahkan suatu masalah dengan cara menganalisis, memahami, memilah, dan menggali lebih dalam sumber yang telah didapatkan.


 

Cara menerapkan strategi SPICES

  • Melakukan kegiatan diskusi bersama kelompok belajar
  • Saling terbuka (sharing) kepada sesama anggota kelompok
  • Mendisiplinkan diri terhadap apa yang sedang dikerjakan


 

Kendala dalam menerapkan strategi SPICES

  • Adanya sifat malas dalam diri mahasiswa
  • Tidak adanya kesadaran dalam diri mahasiswa untuk mencapai sukses
  • Perbedaan karakter setiap mahasiswa
  • Gagap teknologi dan kurangnya kemampuan bahasa Inggris

    

Manfaat SPICES

  1. Mahasiswa menjadi aktif dalam kegitan belajar
  2. Menjadi lebih kritis dan kreatif
  3. Meningkatkan wawasan
  4. Mempunyai prinsip yang kuat dalam hidupnya
  5. Selalu ingin menjadi dokter yang ingin mensejahterakan masyarakat
  6. Meminimalisir terjadinya mal praktek
  7. Mampu mengaktifkan prior knowlagde dengan baik


 

ADULT LEARNING


 

  • Definisi

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu mengalami proses belajar. Salah satunya adalah belajar dari pengalaman. Banyak orang mengatakan pengalaman merupakan pelajaran yang paling berharga, tetapi apa yang terjadi jika seseorang tidak dapat memaknai pengalaman hidupnya? Maka orang tersebut tidak bisa belajar dari kejadian-kejadian yang dialaminya,sehingga hidupnya akan terasa tidak bermakna. Jadi Adult learning adalah proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa untuk dapat memaknai suatu keadaan dan menghubungkannya dengan kehidupan nyata, terutama yang berkaitan dengan dirinya sendiri.


 

Tujuan Adult learning

  1. Membentuk konsep diri pada mahasiswa
  2. Menambah pengalaman mahasiswa dalam menghadapi masalah
  3. Mengembangkan kesiapan dalam belajar mandiri bagi mahasiswa
  4. Menambah orientasi diri atau kepercayaan diri mahasiswa


 

Ciri-ciri orang yang bisa menerima konsep adult learning

  • Mempunyai pengalaman yang berbeda-beda
  • Lebih suka menerima saran-saran daripada digurui
  • Suka memberi perhatian terhadap hal-hal menarik
  • Suka meningkatkan pemahamannya terhadap masalah yang dialaminya
  • Menyenangi hal-hal yang praktis
  • Memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi
  • Selalu optimis


 

Langkah-langkah menerapkan adult learning

  • Menciptakan iklim untuk belajar
  • Menyusun suatu bentuk perencanaan kegiatan belajar secara bersama dan saling membantu
  • Merumuskan tujuan belajar
  • Merancang kegiatan belajar
  • Melaksanakan kegiatan belajar
  • Berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran dan bukan pasif
  • Saling berbagi (sharing) pengalaman
  • Mengevaluasi hasil belajar


     

    Manfaat konsep adult learning dalam kehidupan sehari-hari


     

  • Dapat menerapkan pengetahuan yang dimilikinya dalam kehidupan
  • Mudah berbaur dalam kegiatan organisasi
  • Dapat memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan
  • Membuat kita lebih siap ketika terjun ke masyarakat
  • Membuat kita menjadi lebih mandiri


 

Kesulitan dalam menerapkan konsep adult learning

Masing-masing orang dewasa berbeda-beda dalam kemampuan belajar jika mereka tidak dapat menampilkan kemampuan seperti yang diharapkan, kemungkinan hal itu disebabkan oleh:

Pertama, oleh adanya perubahan fisiologi (fisik), seperti menurunnya pendengaran, penglihatan, tenaga sehingga mempengaruhi kecepatan belajar orang dewasa.

Kedua,
perbedaan cara belajar. Disini dosen perlu membantu mahasiswa dalam proses belajar dengan mempertimbangkan keunikan dan perbedaan setiap mahasiswa.

Ketiga,
adanya perbedaan karakter. Maksudnya ada saja orang dewasa yang mempunyai sifat pendiam (menutup diri), hal ini dapat mengganggu proses belajar, misalnya diskusi.


 


 

Belajar Mandiri


 

  • Definisi

Belajar mandiri merupakan kemampuan yang harus dimiliki. Definisi belajar mandiri bukan berarti sendirian (single-fighter/alone): sambil pegang buku setumpuk coba di baca semua dan diselesaikan soalnya ! Tetapi bagaimana bisa memperoleh pengetahuan atas inisiatif sendiri. Perhatikan kata kuncinya: inisiatif sendiri. Sumber pengetahuan banyak: buku, jurnal, internet, paper, tanya orang lain, eksperimen, coba-coba, iseng-iseng, denger kebetulan di tengah kumpul-kumpul, melihat seminar. Jadi bagaimana dengan inisiatif sendiri kita menggunakan semua sumber pengetahuan untuk mendapatkan ilmu.

    Belajar mandiri tidak berarti belajar sendiri. Hal yang terpenting dalam proses belajar mandiri ialah peningkatan kemauan dan keterampilan siswa/peserta didik dalam proses belajar tanpa bantuan orang lain, sehingga pada akhirnya siswa/peserta didik tidak tergantung pada guru/instruktur, pembimbing, teman, atau orang lain dalam belajar. Dalam belajar mandiri siswa/peserta didik akan berusaha sendiri dahulu untuk memahami isi pelajaran yang dibaca atau dilihatnya melalui media audio visual. Kalau mendapat kesulitan barulah bertanya atau mendiskusikannya dengan teman, guru/instruktur atau orang lain. Siswa/peserta didik yang mandiri akan mampu mencari sumber belajar yang dibutuhkannya.


 


 

Tujuan Belajar Mandiri

  • Menyadari bahwa hubungan antara pengajar dengan dirinya tetap ada, namun hubungan tersebut diwakili oleh bahan ajar atau media belajar.
  • Mengetahui konsep belajar mandiri
  • Mengetahui berbagai cara atau trik belajar yang efektif
  • Melatih siswa untuk lebih mandiri dalam belajar
  • Menumbuhkan kesadaran siswa dalam belajar dan menyelesaikan masalah secara mandiri
  • Membentuk karakter siswa, menjadi lebih giat belajar dan kritis dalam menyelesaikan masalah.


 

Adapun ciri-ciri belajar mandiri adalah sebagai berikut

  1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku yang berisfat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun nilai dan sikap (afektif)
  2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan bertahap
  3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja, melainkan harus ada usaha. Dan perubahan terjadi akibat adanya interaksi dengan lingkungan
  4. Perubahan tidak semata-mata disebabkan oleh pertumbuhan fisik / kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau obat-obatan


 

Langkah-langkah belajar mandiri

  • Buatlah garis besar sederhana mengenai fungsi-fungsi yang harus dilakukan. Langkah ini harus memuat pernyataan yang dapat dipahami, mengenai apa yang harus dikerjakan orang, wewenang apa yang mereka miliki, dan apa hubungan mereka dengan orang lain.
  • Buatlah pernyataan sederhana mengenai harapan prestasi. Mungkin pada awalnya cukup sulit membuat standar prestasi . Meskipun demikian, upaya keras untuk membuat standar, sering menghasilkan sasaran-sasaran pasti dan dapat diterima. Jika suatu pekerjaan tidak dapat diukur, maka pekerjaan itu seharusnya tidak ada!
  • Pada waktu-waktu tertentu (setidaknya 3 - 4 bulan), periksalah prestasi sesungguhnya terhadap standar yang telah ditentukan. Anda harus tahu, berapa besar kesenjangan antara apa yang dilakukan, dengan apa yang seharusnya dikerjakan. Hal ini harus diperiksa berdasarkan prestasi kerja individu dan kelompok.
  • Buatlah daftar tindakan-tindakan perbaikan yang diperlukan untuk memperbaiki prestasi, dimana perbaikan tersebut diperlukan. Setiap individu tidak dapat berkembang menjadi pelajar yang baik, kecuali mereka secara terus menerus meningkatkan ketrampilannya, mendapatkan pengetahuan, mengubah kebiasaannya, dan memiliki sikap membangun. Manajemen harus mengetahui dimana perbaikan diperlukan.
  • Pilihlah sumber-sumber terbaik darimana pelajar dapat memperoleh bantuan dan dorongan. Sumber-sumber yang akurat bias dari orangtua, dosen bahkan teman satu kuliahnya yang dianggap mampu menjadi sumber yang terpercaya
  • Rencanakan waktu untuk memberikan bantuan dan dorongan yang diperlukan. Harus ada tindakan nyata untuk menentukan apa yang harus dilakukan, menganalisis apa yang telah dilakukan, dan menentukan apa tindakan yang diperlukan. Tanpa tindakan terencana, maka semuanya tidak ada artinya.
  • Berikan pemahaman mengenai apa yang membentuk upah sehari seimbang dengan pekerjaan sehari yang layak, serta insentif apa yang layak dikerjakan. Dengan dasar yang kuat mengenai upah dan insentif lain yang adil, maka suatu suasana dapat diciptakan sehingga membuat orang tetap percaya pada anda.


 


 


 

Syarat materi ajar

Menurut Prawiradilaga (2004 : 194) Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh materi ajar ini adalah:

  • Kejelasan rumusan tujuan belajar (umum dan khusus).
  • Materi ajar dikembangkan setahap demi setahap, dikemas mengikuti alur desain pesan, seperti keseimbangan pesan verbal dan visual.
  • Materi ajar merupakan sistem pembelajaran lengkap, yaitu ada rumusan tujuan belajar, materi ajar, contoh/bukan contoh, evaluasi penguasaan materi, petunjuk belajar dan rujukan bacaan.
  • Materi ajar dapat disampaikan kepada siswa melalui media cetak, atau komputerisasi seperti CBT, CD-ROM, atau program audio/video.
  • Materi ajar itu dikirim dengan jasa pos, atau menggunakan teknologi canggih dengan internet (situs tertentu) dan e-mail; atau dengan cara lain yang dianggap mudah dan terjangkau oleh peserta didik.
  • Penyampaian materi ajar dapat pula disertai program tutorial, yang diselenggarakan berdasarkan jadwal dan lokasi tertentu atau sesuai dengan kesepakatan bersama.


 

Kelemahan Belajar Mandiri

Belajar Mandiri memiliki kelemahan, salah satunya adalah bahwa bagaimana mungkin seorang siswa yang tidak terlalu memahami tentang luasnya ilmu kemudian dibebaskan memilih apa yang mereka sukai. Seolah sistem Belajar mandiri hanya sebagai suatu sistem yang mengembirakan siswanya saja dan melupakan untuk tujuan apa sebenarnya sebuah pendidikan itu dilakukan. Dan bagaimana pula bisa dilakukan -penjagaan terhadap ilmu-ilmu yang sudah ada. Jika sebuah ilmu tersebut tidak diminati oleh siswa, tentu saja satu waktu ilmu tersebut akan hilang. Dan bagaimana siswa dibiarkan memilih jika ada persyaratan kemampuan yang memang mesti dimiliki seandainya siswa mau belajar ilmu tertentu. Tak mungkinlah siswa SD dibiarkan memilih mata pelaharan Integral Diferensial sebelum mereka menguasai dulu perkalian, jumlah, kurang, bagi, dll.


 

  1. Pemahaman pembelajar terhadap bahan ajar. Bisa saja terjadi kesalahan visi dan persepsi terhadap tujuan yang ditentukan. Si pembelajar merasa bahwa dia telah mencapai tujuan pembelajaran; sedangkan pengajar/fasilitator masih menganggap belum tercapai sepenuhnya. Tetapi, kesalahan visi dan persepsi ini dapat ditanggulangi, karena setiap akhir paket pembelajaran diadakan evaluasi dan refleksi.
  2. Kesulitan mendapat penjelasan pengajar/fasilitator yang sesegera mungkin apabila si pembelajar mendapatkan kesulitan. Si pembelajar harus menunggu pengajar untuk menjelaskan pada pertemuan yang akan datang.
  3. Belajar secara mandiri membutuhkan semangat juang tinggi, hal ini berbeda dengan belajar di kelas dimana banyak teman dan bisa bebas berdiskusi serta mendapat reaksi jawaban langsung dari instruktur/ tentor tanpa menunggu.
  4. Suasana "kelas maya" yaitu internet terkesan kurang hidup bila dibandingkan kelas tatap muka/ off line, apalagi bila peserta pasif.

Konsep Belajar Mandiri

  • Menyadari bahwa hubungan antara pengajar dengan dirinya tetap ada, namun
    hubungan tersebut diwakili oleh bahan ajar atau media belajar.
  • Mengetahui konsep belajar mandiri.
  • Mengetahui kapan ia harus minta tolong, kapan ia membutuhkan bantuan/dukungan.
  • Mengetahui kapan ia perlu mempergunakan media belajar.
  • Mengetahui kapan ia harus minta tolong, kapan ia membutuhkan bantuan/dukungan.
  • Mengetahui kepada siapa dan dari mana ia dapat memperoleh bantuan/dukungan.


     

Media Belajar

  Mengetahui kepada siapa dan dari mana ia dapat memperoleh bantuan/dukungan.

  Menyadari bahwa ia harus mengetahui cara mempergunakan media BJJ.

Strategi Belajar efektif

  • Mengetahui berbagai cara atau trik belajar yang efektif


 

Student Centered


 

  • Definisi:

Student centered adalah metode yang dipakai dalam suatu proses pembelajaran dimana mahasiswa menempatkan dirinya sebagai pusat dalam kegiatan belajar. Metode ini berbeda dari sebelumnya yang menerapkan teacher centered learning yang cenderung menjadikan mahasiswa pasif dan kurang efektif karena penguasaan materi kuliah minimum dan memusatkan perhatian pada dosen. Dalam metode ini dosen hanya bersifat sebagai fasilitator, motivator dalam mendorong mahasiswa agar selalu aktif.


 

Perbedaan student centered dengan teacher centered:

Metode student centered adalah metode yang dapat menempatkan mahasiswa menjadi pusat kegiatan belajar mengajar, dan mahasiswa sangat berperan aktif dalam kegiatan tersebut. Dan didalam metode student centered Mahasiswa justru bisa lebih banyak mengetahui informasi daripada dosen. Sedangkan metode
teacher centered
adalah metode dimana pusat kegiatan belajar tertuju pada dosen. Metode ini kurang efektif untuk diterapkan. Dalam metode ini mahasiswa kurang bisa berperan aktif sehingga mahasiswa hanya mendengarkan informasi melalui dosen. Metode ini tidak efisien diterapakan dalam fakulatas kedokteran karena kurang dapat menumbuhkan daya kreatifitas mahasiswa.


 

Bagaimana konsep pembelajaran student centered?

Konsep pembelajaran student centered yaitu diawali dengan membahas skenario yang diberikan oleh dosen, kemudian berdasarkan prior knowladge masing-masing anggota diskusi membahas masalah-masalah yang timbul dengan saling bertukar pendapat. Jika terdapat masalah yang tidak terselesaikan kemudian dijadikan learning issue. Mahasiswa lalu menghimpun informasi dari berbagai sumber, baik itu melalui internet, perpustakaan, maupun dosen itu sendiri. Kemudian mahasiswa diberi fasilitas untuk mempresentasikan hasil kerjanya, setelah itu dosen dan mahasiswa bersama-sama membuat kesimpulan atas masalah-masalah tersebut.


 

Seberapa pentingkah metode student centered bagi mahasiswa?

Metode student centered sangat penting diterapkan dalam proses pembelajaran, terutama dalam fakultas kedokteran, karena melalui metode ini mahasiswa dapat meningkatkan tingkat pemahamannya pada suatu masalah dan mengajar mahasiswa untuk berpikir kritis serta dapat menumbuhkan kepercayaan diri, karena seringnya bertukar pendapat (sharing).


 

Problem Based Learning

    

  • Definisi

PBL adalah metode
belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru (Suradijono, 2004). Menurut Boud dan Felleti (1991, dalam Saptono, 2003) menyatakan bahwa Problem Based Learning is a way of constructing and teaching course using problem as a stimulus and focus on student activity. H.S. Barrows (1982), sebagai pakar PBL menyatakan bahwa definisi PBL adalah sebuah metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru.

Dengan demikian, masalah yang ada digunakan sebagai sarana agar anak didik dapat belajar sesuatu yang dapat menyokong keilmuannya. PBL adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini mahasiswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam penerapan PBL.

PBL merupakan satu proses pembelajaran di mana masalah merupakan pemandu utama ke arah pembelajaran tersebut. Boud dan Tamblyn (1980) mendefinisikan PBL sebagai the learning which result from the process of working towards the understanding of, or resolution of, a problem.

Menurut Duch (1995), PBL adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerja sama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.

Margetson (1991) pula menganggap PBL sebagai konsep pengetahuan, pemahaman dan pendidikan secara mendalam berbeda daripada kebanyakan konsep yang terletak di bawah pembelajaran berasaskan mata kemahasiswaan. Dengan menggunakan pendekatan PBL ini, mahasiswa akan bekerja secara kooperatif dalam kumpulan untuk menyelesaikan masalah sebenarnya dan yang paling penting membina kemahiran untuk menjadi mahasiswa yang boleh belajar secara sendiri (Hamizer, dkk, 2003).

    

Tujuan dari PBL itu sendiri adalah

  • Untuk memahami konsep pembelajaran berdasarkan masalah yang ada pada PBL itu sendiri.
  • Mampu memahami langkah-langkah pembelajaran berdasarkan masalah di tempat kerja.
  • Menerapkan metode PBL dalam team work atau tempat kerja.


 

Ciri-Ciri PBL                                        Bridges (1992) dan Charlin (1998) telah menggariskan beberapa ciri-ciri utama yang perlu ada di dalamnya seperti berikut :

  • Pembelajaran berpusat atau bermula dengan masalah
  • Masalah yang digunakan merupakan masalah dunia sebenarnya yang mungkin akan dihadapi oleh mahasiswa dalam kerja profesional mereka di masa depan.
  • Pengetahuan yang diharapkan dicapai oleh mahasiswa semasa proses pembelajaran disusun berdasarkan masalah.
  • Para mahasiswa bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran mereka sendiri.
  • Mahasiswa akan bersifat aktif dengan pemrosesan maklumat.
  • Pengetahuan sedia ada akan diaktifkan serta menyokong pembangunan pengetahuan yang baru.
  • Pengetahuan akan diperoleh dalam konteks yang bermakna.
  • Mahasiswa berpeluang untuk meningkatkan serta mengorganisasikan pengetahuan.
  • Kebanyakan pembelajaran berlaku dalam kumpulan kecil dibanding menerusijan kaidah perkuliahan.


 

Perbedaan

No

Metode PBL

Metoda Hybrid

1

Berfokus pada dosen

Berfokus di mahasiswa

2

Mahasiswa menjelaskan (two way learning).

Dosen menerangkan dan mahasiswa mendengarkan (one way learning).

3

Dosen merangkum materi berdasarkan hasil diskusi/pemikiran ma hasiswa.

Dosen menjelaskan seluruh materi.

4

Key process is learning.

Key process is teaching.

5

Dosen tidak hanya menyiapkan materi, tetapi juga harus menguasai metode penyampaian materi yang efektif.

Dosen hanya menyiapkan materi.

6

Mahasiswa membaca sesuai silabus sebelum kuliah dimulai (reading habit tinggi).

Mahasiswa membaca menjelang ujian, terutama catatan (reading habit rendah).

7

Mahasiswa aktif (partisipatif tinggi).

Mahasiswa pasif (partisipatif rendah).

8

Mahasiswa dapat dengan mudah menangkap esensi dari perkuliahan.

Mahasiswa hanya menghafal materi) dan kemudian lupa.

                            (Magister Management UI, 2006)


 

Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan (Pannen, 2001), yaitu :

  1. Mengidentifikasi masalah
  2. .Mengumpulkan data,
  3. .Menganalisis data,
  4. Memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya,
  5. Memilih cara untuk memecahkan masalah,
  6. .Merencanakan penerapan pemecahan masalah,
  7. Melakukan uji coba terhadap rencana yang ditetapkan, dan
  8. .Melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah.


     


     

Hubungan Antara Long Life, Adult Learning, Self Directed Learning, Independent Learning Dan Student Centered


 


 


 

Proses belajar sepanjang hayat dapat diterapkan dengan baik melalui metode student centered. Dalam kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada mahasiswa perlu digunakan suatu konsep belajar orang dewasa (adult learning).

Sumber: www.replubika.com


 

Masalah-Masalah Belajar dan penyelesaiannya

    Menurut hasil pengamatan, berbagai masalah belajar berbagai masalah yang muncul ke permukaan, ada yang secara umum dapat diamati karena berupa perilaku-perilaku yang menunjukan karakteristik sebagai masalah, tetapi juga hasil inverensi dari para dosen yang sehari-hari mengamati perilaku mahasiswa. Dalam bukunya yang berjudul "Peningkatan Pengembangan pendidikan" Utomo bersama Ruitjer menyatakan bahwa dari hasil pengamatan tenaga pengajar, ternyata banyak mahasiswa dirumah yang tidak mempersiapkan diri untuk belajar dan juga tidak menyelesaikan tugas yang diberikan Dosen sebagai pekerjaan rumah. Penyebab yang lain karena mahasiswa merasa Dosen mengajar dengan kecepatan yang tinggi. Sedangkan bahan kuliah yang bersifat hierarkis mensyaratkan pengetahuan prasyarat(Suparno,)

    Secara ringkas, kesulitan-kesulitan mahasiswa itu meliputi :

  1. Sumber kesulitan Internal
  • Rasa bosan
  • Semangat belajar turun
  • Sulit mencerna pelajaran
  • Sulit mengatur waktu
  • Sukar Berkonsentrasi
  • Sulit memahami buku teks
  • Tidak memiliki cukup keterampilan belajar

2. Sumber kesulitan Eksternal

  • Dosen
    • Penyampaian pelajaran monoton
    • Tuntutan atas jawaban tes tapat seperti apa yang ada dalam buku
    • Perkuliahan terlalu teoritis
  • Lingkungan fisik dan sosial ekonomi
    • Laboratorium tidak cukup
    • Ruang belajar tidak nyaman
    • Suara bising
    • Mahasiswa lain menyontek saat ujian/kuis
    • Buku diperpustakaan kurang(antri)
    • Biaya Kuliah mahal
    • Biaya hidup mahal

    Untuk mengatasi masalah masalah belajar, ada beberapa tips yang dapat dicatat tentang tindakan-tindakan yang dapat membantu mengefektifkan seseorang dalam belajar, diantaranya :

  • Membuat rangkuman
  • Membuat pemetaan konsep-konsep penting
  • Mencatat hal-hal yang esensial dan membuat komentar
  • Membaca efektif
  • Membaca pendalaman
  • Membaca indeks
  • Menganalisis soal atau tugas
  • Mengenal lingkungan

    
 

    


 

Tinjauan Pustaka

Health Professions Council and Royal College of Speech & Language Therapists. Your guide to continuing professional development. 2006. Available in www.rcslt.org.        Pedoman Pendidikan dan Pelatihan Profesional Kedokteran Berkelanjutan (PPPKB). Konsil kedokteran Indonesia subkomite CPD.2006                Dra. Endang Lestari, M.Pd                                    
www.pelopor-adventure.co.id                                 www.delivery.org                                          http://www.depsos.go.id/


 


 


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails